Buku pelajaran adalah bisnis
Pada tahun 1990 an, ketika itu saya masih duduk di kursi SMA. Masalah buku pelajaran tidaklah semasif seperti saat ini. Padahal saat itu masih belum ada alternatif literasi pengganti buku pelajaran dari internet. Dimana saat itu jika kita ingin belajar dengan membaca buku, maka tempat terbaiknya adalah perpustakaan sekolah. Ini sudah sangat berbeda dengan sekarang, dimana kita dapat mencari segala informasi dari internet. Begitu pula dengan semua buku yang ada di perpustakaan sekolah dan ilmu yang diajarkan di sekolah.
Bisnis ini sudah pasti telah membuat untung besar bagi pebisnis buku pelajaran sekolah di negara ini. Dengan jumlah murid sekolah pada masing -masing tingkatan SD SMP SMA sebanyak 100.000, maka akan ada distribusi berbayar buku sebanyak 300.000 setiap mata pelajaran pada setiap semesternya. Padahal pada setiap tingkat pendidikan jumlah mata pelajarannya bisa sampai 10 mata pelajaran atau bahkan lebih. Maka akan ada jumlah distribusi buku pelajaran berbayar yang jumlahnya tentu sangat fantastis. Begitu juga dengan nilai rupiahnya.
Untuk memuluskan bisnis buku pelajaran ini, murid diwajibkan membeli semua buku yang terdistribusi dari penerbit supaya tidak ada kerugian sedikitpun dari bisnis mereka.
Apakah negara dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Pemimpin Daerah tidak tahu atas hal tersebut?....
Lalu apakah sekolah atau guru ikut berperan dalam bisnis ini?....
Seberapa mengganggu ini untuk kemajuan dunia pendidikan kita?...
Sebuah majalah mingguan pernah merilis tulisan tentang hal tersebut sepuluh tahun lalu. Bahkan menteri pendidikan kala itu juga telah melakukan langkah untuk menekan bisnis yang tak berpihak pada dunia pendidikan ini, tetapi hingga sekarang bisnis ini masih saja tetap berjalan dengan mulus. Para orang tua dipaksa menyediakan sejumlah uang untuk memenuhi persyaratan sekolah satu ini. Mental para murid pun pada akhirnya menjadi lemah jika tidak memiliki buku seperti teman-teman mereka sebagai syarat belajar di kelas.

Komentar
Posting Komentar